Siapa Bilang TV Indonesia Tidak Berkualitas, Lihat Ilustrasi Ini Dulu.

Sobat Noble’s – Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarokatuh, bro dan sist Noble’s sekalian. Mumpung masih dalam suasana Lebaran, ane ucapkan selamat Hari Raya Idul Fitri 1436 H. Mohon maaf lahir batin ya kalau ane pernah sengaja atau tidak sengaja menyakiti perasaan Bro Sist sekalian.

Indonesia yang saat ini sedang menghadapi krisis moral mungkin bukan topik baru ya sob. Kalau dipikir-pikir, acara-acara di televisi memiliki andil yang besar untuk membentuk pola pikir masyarakat. Sayangnya, kita tahu sendiri bagaimana kualitas berbagai program TV di berbagai chanel lokal kita. Mendidik? Mungkin ada, tapi hanya segelintir saja. Program TV kini hanya berorientasi pada rating-rating, dan rating saja. Semakin tinggi rating, semakin sering program tersebut ditayangkan dan tak lama kemudian program serupa dengan nama yang berbeda namun dengan konsep yang hampir mirip pasti muncul di stasiun TV lain. Padahal belum tentu program yang ditayangkan tersebut dapat memberikan faedah kepada pemirsanya. Tapi yang disayangkan, demi rating itu kadang kualitas program tersebut tidak terlalu dinomor-satukan. Yang ane maksud kualitas di sini adalah dampak yang ditimbulkan ke masyarakat luas. Berikut contoh ilustrasi betapa memprihatinkannya program pertelevisian di negeri ini.

1. Program Reality Show yang Dibuat-buat

10408590_932166383510901_8963864294406353973_n_zpsxkcc2pcf Dulu ane punya teman seorang juru masak yang pernah kerja di sebuah resto di Aceh, sob. Dia cerita kalau dulu resto tempat dia kerja itu pernah dijadikan lokasi shooting buat reality show Terme*ek-me*ek (jangan ngeres ente gan ) dan memang semua cerita dalam reality show tersebut adalah REKAYASA. Para pengunjung yang sedang makan di situ malah diminta buat akting terkejut gitu pas adegan perselingkuhan si istri ketahuan sama suaminya. Jadi, kalau ada program reality show yang sediiihhh atau ngeselin banget sampai bikin agan nangis dan marah, mending agan cepetan hapus tuh air mata, dan redakan emosi. Pertanyakan dulu apakah adegan yang disuguhkan memang nyata atau hanya rekayasa? Nggak mau kan, menguras energi agan demi adegan yang sebenarnya hanya dibuat-buat?

2. Mempermalukan Orang Lain dengan Iming-Iming Uang

11108232_932165970177609_6480427463169158023_n_zpsk8bwoaic Kalau ini mungkin sering agan temui di acara musik pagi yang slogannya “lalalayeyeye” itu gan. Jadi buat dapetin uang, acara tersebut mengharuskan peserta untuk berdandan seaneh dan semeriah mungkin, lalu saat ada penyanyi mereka harus heboh jogetnya biar diperhatikan oleh host-nya. Sobat tahu sendiri kebanyakan pesertanya pasti Ibu-Ibu, dan sedihnya, alasan mereka mau bedandan seperti itu supaya dapat uang dan bisa membelikan anaknya sepatu, atau buku tulis, atau untuk makan keluarga. Jujur kalau ane, gak bakal ane biarin emak ane sampai melakukan hal kayak gitu, dipermalukan dan ditonton berjuta-juta pemirsa Indonesia demi beliin ane ini-itu. Mending ane ke sekolah pakai sepatu butut daripada lihat emak ane kayak gitu gan. Tapi anehnya tiap pagi masih adaaaa aja emak-emak yang mau berdandan kayak gitu. Yang ane pertanyakan apakah anak-anak mereka di rumah tega lihat Ibunya sampai ngelakuin hal kayak gitu demi mereka? Dan konyolnya, acara TV yang memfasilitasi acara tersebut apa enggak punya ide lain supaya emak-emak ini bisa tetap dapat duit tanpa harus dandan aneh dan joget-joget? Kehabisan kreatifitas atau cari rating doang???

3. Mau Dimaki-maki asal Dibayar

11703297_932166430177563_624836469922098417_n_zpsxxaqwkaw Kalau ini mungkin udah nggak asing sama Sobat Noble’s semua. Asal dibayar plus masuk TV, penonton rela dimaki-maki, dihina, diejek-ejek. Dan yang mereka lakukan ya ketawa aja. Yang ane pertanyakan apa sudah serendah itu kesadaran akan harga diri di kalangan generasi muda kita? Secara nggak langsung, para penonton bayaran ini malah menyuburkan program TV yang host-nya bebas memaki-maki itu sehingga tetap ramai dan tetap ditonton banyak orang. yang lebih miris lagi, apa program-program TV serupa nggak bisa membuat penonton datang dengan sukarela? Terbukti acara-acara TV ini masih harus dipertanyakan kualitasnya.

4. Acara Komedi yang Nggak Ada Lucu-Lucunya

11703536_932166466844226_8500207201374279761_o_zpshxpjsrzy Saking nggak lucunya, para pelawak sampai menggunakan tepung, kue tart, telor, bedak, bahkan properti lain untuk mengerjai rekan pelawak yang lain. Sedih ya, padahal masih banyak masyarakat kita yang kelaparan, tapi di acara seperti ini bahan makanan dibuang-buang. Banyak masyarakat kita yang belum pernah dan ingin sekali mencoba enaknya kue tart, tapi di acara seperti ini malah ditemplokin ke muka orang. Bayangkan bagaimana perasaan mereka yang untuk makan sehari-hari aja susah ketika melihat adegan seperti begitu gan? Komedi di acara TV seperti ini tujuannya bukan lagi untuk menghibur, tapi untuk mendiskreditkan rasa kemanusiaan dan empati. Mengajarkan kekerasan verbal kepada para penontonnya juga.

5. Kini Memaki adalah Hal yang Biasa

11750645_932166443510895_5115077757565412962_n_zpsolzepena Berhubungan sama poin ke-3 dan ke-4 nih sob. Sekarang memaki orang rasanya gampang sekali, ditayangkan di TV pula. Mungkin karena kehabisan bahan lawakan berkualitas lagi.

6. Sinetron yang Mendegradasi Moral

11737994_932166360177570_5023448822696972803_n_zpssuc6b6rc Sinetron seperti ini pasti banyak kita jumpai di berbagai stasiun TV. Alurnya nggak jelas, Pesan moralnya nggak ada, tokoh antagonisnya jahat banget, tokoh protagonisnya cuma bisa nangis saat dijahatin, dst… dst. Tapi yang mencengangkan sinetron masih menjadi acara nomer satu yang menjadi pilihan mengisi waktu luang, sementara agan semua tahu kalau jam tayang sinetron masih memungkinkan untuk ditonton oleh anak-anak dan ABG labil. Makannya jangan heran ketika melihat anak-anak SD dandanannya sudah terlampau dewasa, anak-anak SMP berani ngebully temannya sendiri, dan anak-anak ini sudah pacaran di usia yang masih belia.

7. Acara Gosip yang Mendidik Pemirsanya jadi Suka Bergunjing

11738127_932166413510898_42671852226411758_n_zpsq0arapvk Jujur, sejak dulu ane paling males nonton acara gosip. Tapi banyak orang lain yang suka. Iya kalau bahan gosipnya nyata, kalau hanya sensasi supaya yang digosipnya makin terkenal? Di Indonesia, seseorang tidak perlu punya prestasi kalau mau jadi terkenal. Cukup terlibat di sebuah skandal dan tara…! Acara-acara gosip akan berlomba-lomba memfasilitasi orang tersebut supaya lebih terkenal.

Berikut Pendapat dari si pembuat komik-komik di atas soal industri pertelevisian negeri ini.

Disadari atau tidak, inilah tontonan hiburan yang mengisi hari-hari kita, sekaligus tuntunan moral bagi putra-putri kita. Maaf, karena gambar ini saya buat sekadar lucu-lucuan, jadi mohon menyikapinya jangan dibawa serius. Hehehe.. Sebagian dari kita mungkin tak mau repot, gemar menyederhanakan masalah, salah satunya dengan mengatakan : “suka, ya nonton. Gak suka, ya pindahin channel”. Atau mengatakan “kuasa di tangan kita yang pegang remot, gitu aja repot”. Ya itu memang solusi, tapi maaf, itu solusi jangka pendek. Okelah konten yang saya kritisi berikut dikerjakan oleh tim-tim kreatif dengan proses yang tidak mudah. Hasilnya juga menafkahi banyak orang. Tapi, bukankah naif rasanya jika hanya memikirkan nasib orang-orang dibaliknya tapi mengabaikan jutaan rakyat Indonesia yang mungkin saja resah dan sudah masuk dalam kategori muak dengan tayangan-tayangan yang kebanyakan pembodohan massif tersebut? Yang perlu diingat, televisi memancar melalui frekuensi dengan sumber daya terbatas, ada tanggung jawab dan kode etik yang mengikut. Jadi jawaban “pindah channel” juga sebenarnya kurang tepat. Permasalahannya tidak sesimpel suka gak suka atau pindah channel. Kalo tak empati masalah ini, niscaya kita cenderung jadi masyarakat yang permisif dan oke-oke saja menerima budaya merusak, membiarkan anak-anak kita tiap hari dicekoki tontonan orang teraniaya dari segi fisik dan ucapan. Saya memang cuma bisa mengkritik lewat gambar, tak pandai membuat program tandingan. Tapi barangkali inilah secuil usaha yang saya niatkan kiranya bisa memberi andil dalam meperbaiki moral generasi, setidaknya keluarga saya sendiri sebagai orang terdekat. Tapi lagi-lagi ini kembali ke diri kita masing-masing sebagai pemirsa. Toh kritikan ini sekadar pendapat subyektif saya, dan bagaimanapun pendapat manusia bukanlah ayat ilahi yang tak bisa disangkal kebenarannya. Orang yg berpikir, niscaya tau mana yang lebih mendatangkan manfaat ataupun mudharat. *lah, kok malah saya yang bawa serius?* haha..

Demikian artikel ini saya sampaikan terimakasih atas inspirasinya buat si pembuat ilustrasi ini, semoga menjadi pelajaran yang berharga bagi penerus masa depan negara ini.. 😀

Dan sobat Noble’s terimakasih telah berkunjung share and like artiikel ini ya semoga semakin banyak orang yang bisa memilah dan memilih acara televisi yang berkualitas baik untuk dirinya maupun untuk orang lain. 🙂

~Sekian via Kaskus

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s