Selamat Hari Raya Idul Fitri 1435H

Sobat Noble’s – Selamat Hari Raya Idul Fitri, Mohon Maaf Lahir dan Batin ya Sob ๐Ÿ™‚

Apa yang mesti kita ucapkan ketika bertemu saudara kita di hari raya Idul Fitri? Adakah ucapan khusus yang diajarkan?

Taqobbalallahu minna wa minkum

Perlu diketahui bahwa telah terdapat berbagai riwayat dari beberapa sahabat radhiyallahu โ€˜anhum bahwa mereka biasa mengucapkan selamat di hari raya di antara mereka dengan ucapan โ€œTaqobbalallahu minna wa minkumโ€ (Semoga Allah menerima amalku dan amal kalian).

ูุนู† ุฌูุจูŽูŠู’ุฑู ุจู’ู†ู ู†ูููŽูŠู’ุฑู ู‚ูŽุงู„ูŽ : ูƒูŽุงู†ูŽ ุฃูŽุตู’ุญูŽุงุจู ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุตูŽู„ูŽู‘ู‰ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ูŽู‘ู…ูŽ ุฅูุฐูŽุง ุงูู„ู’ุชูŽู‚ูŽูˆู’ุง ูŠูŽูˆู’ู…ูŽ ุงู„ู’ุนููŠุฏู ูŠูŽู‚ููˆู„ู ุจูŽุนู’ุถูู‡ูู…ู’ ู„ูุจูŽุนู’ุถู : ุชูŽู‚ูŽุจูŽู‘ู„ูŽ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ู…ูู†ูŽู‘ุง ูˆูŽู…ูู†ู’ูƒ . ู‚ุงู„ ุงู„ุญุงูุธ : ุฅุณู†ุงุฏู‡ ุญุณู† .

Dari Jubair bin Nufair, ia berkata bahwa jika para sahabat Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam berjumpa dengan hari โ€˜ied (Idul Fithri atau Idul Adha, pen), satu sama lain saling mengucapkan, โ€œTaqobbalallahu minna wa minka (Semoga Allah menerima amalku dan amal kalian).โ€ Al Hafizh Ibnu Hajar mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan.[1]

Imam Ahmad rahimahullah berkata,

ูˆูŽู„ูŽุง ุจูŽุฃู’ุณูŽ ุฃูŽู†ู’ ูŠูŽู‚ููˆู„ูŽ ุงู„ุฑูŽู‘ุฌูู„ ู„ูู„ุฑูŽู‘ุฌูู„ู ูŠูŽูˆู’ู…ูŽ ุงู„ู’ุนููŠุฏู : ุชูŽู‚ูŽุจูŽู‘ู„ูŽ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ู…ูู†ูŽู‘ุง ูˆูŽู…ูู†ู’ูƒ

โ€œTidak mengapa (artinya: boleh-boleh saja) satu sama lain di hari raya โ€˜ied mengucapkan: Taqobbalallahu minna wa minkaโ€.

ูˆูŽู‚ูŽุงู„ูŽ ุญูŽุฑู’ุจูŒ : ุณูุฆูู„ูŽ ุฃูŽุญู’ู…ูŽุฏู ุนูŽู†ู’ ู‚ูŽูˆู’ู„ู ุงู„ู†ูŽู‘ุงุณู ูููŠ ุงู„ู’ุนููŠุฏูŽูŠู’ู†ู ุชูŽู‚ูŽุจูŽู‘ู„ูŽ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ูˆูŽู…ูู†ู’ูƒูู…ู’ .ู‚ูŽุงู„ูŽ : ู„ูŽุง ุจูŽุฃู’ุณูŽ ุจูู‡ู ุŒ ูŠูŽุฑู’ูˆููŠู‡ ุฃูŽู‡ู’ู„ู ุงู„ุดูŽู‘ุงู…ู ุนูŽู†ู’ ุฃูŽุจููŠ ุฃูู…ูŽุงู…ูŽุฉูŽ ู‚ููŠู„ูŽ : ูˆูŽูˆูŽุงุซูู„ูŽุฉูŽ ุจู’ู†ู ุงู„ู’ุฃูŽุณู’ู‚ูŽุนู ุŸ ู‚ูŽุงู„ูŽ : ู†ูŽุนูŽู…ู’ .ู‚ููŠู„ูŽ : ููŽู„ูŽุง ุชููƒู’ุฑูŽู‡ู ุฃูŽู†ู’ ูŠูู‚ูŽุงู„ูŽ ู‡ูŽุฐูŽุง ูŠูŽูˆู’ู…ูŽ ุงู„ู’ุนููŠุฏู .ู‚ูŽุงู„ูŽ : ู„ูŽุง .

Salah seorang ulama, Harb mengatakan, โ€œImam Ahmad pernah ditanya mengenai apa yang mesti diucapkan di hari raya โ€˜ied (โ€˜Idul Fithri dan โ€˜Idul Adha), apakah dengan ucapan, โ€˜Taqobbalallahu minna wa minkumโ€™?โ€ Imam Ahmad menjawab, โ€œTidak mengapa mengucapkan seperti itu.โ€ Kisah tadi diriwayatkan oleh penduduk Syam dari Abu Umamah.

Ada pula yang mengatakan, โ€œApakah Watsilah bin Al Asqoโ€™ juga berpendapat demikian?โ€ Imam Ahmad berkata, โ€œBetul demikian.โ€ Ada pula yang mengatakan, โ€œMengucapkan semacam tadi tidaklah dimakruhkan pada hari raya โ€˜ied.โ€ Imam Ahmad mengatakan, โ€œIya betul sekali, tidak dimakruhkan.โ€

ูˆูŽุฐูŽูƒูŽุฑูŽ ุงุจู’ู†ู ุนูŽู‚ููŠู„ู ูููŠ ุชูŽู‡ู’ู†ูุฆูŽุฉู ุงู„ู’ุนููŠุฏู ุฃูŽุญูŽุงุฏููŠุซูŽ ุŒ ู…ูู†ู’ู‡ูŽุง ุŒ ุฃูŽู†ูŽู‘ ู…ูุญูŽู…ูŽู‘ุฏูŽ ุจู’ู†ูŽ ุฒููŠูŽุงุฏู ุŒ ู‚ูŽุงู„ูŽ : ูƒูู†ู’ุช ู…ูŽุนูŽ ุฃูŽุจููŠ ุฃูู…ูŽุงู…ูŽุฉูŽ ุงู„ู’ุจูŽุงู‡ูู„ููŠูู‘ ูˆูŽุบูŽูŠู’ุฑูู‡ู ู…ูู†ู’ ุฃูŽุตู’ุญูŽุงุจู ุงู„ู†ูŽู‘ุจููŠูู‘ ุตูŽู„ูŽู‘ู‰ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ูŽู‘ู…ูŽ ููŽูƒูŽุงู†ููˆุง ุฅุฐูŽุง ุฑูŽุฌูŽุนููˆุง ู…ูู†ู’ ุงู„ู’ุนููŠุฏู ูŠูŽู‚ููˆู„ู ุจูŽุนู’ุถูู‡ูู…ู’ ู„ูŽุจูŽุนู’ุถู : ุชูŽู‚ูŽุจูŽู‘ู„ูŽ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ู…ูู†ูŽู‘ุง ูˆูŽู…ูู†ู’ูƒ .ูˆูŽู‚ูŽุงู„ูŽ ุฃูŽุญู’ู…ูŽุฏู : ุฅุณู’ู†ูŽุงุฏู ุญูŽุฏููŠุซู ุฃูŽุจููŠ ุฃูู…ูŽุงู…ูŽุฉูŽ ุฅุณู’ู†ูŽุงุฏูŒ ุฌูŽูŠูู‘ุฏูŒ .

Ibnu โ€˜Aqil menceritakan beberapa hadits mengenai ucapan selamat di hari raya โ€˜ied. Di antara hadits tersebut adalah dari Muhammad bin Ziyad, ia berkata, โ€œAku pernah bersama Abu Umamah Al Bahili dan sahabat Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam lainnya. Jika mereka kembali dari โ€˜ied (yakni shalat โ€˜ied, pen), satu sama lain di antara mereka mengucapkan, โ€˜Taqobbalallahu minna wa minkaโ€ Imam Ahmad mengatakan bahwa sanad riwayat Abu Umamah ini jayyid.

โ€˜Ali bin Tsabit berkata, โ€œAku pernah menanyakan pada Malik bin Anas sejak 35 tahun yang lalu.โ€ Ia berkata, โ€œUcapan selamat semacam ini tidak dikenal di Madinah.โ€

Diriwayatkan dari Ahmad bahwasanya beliau berkata, โ€œAku tidak mendahului dalam mengucapkan selamat (hari raya) pada seorang pun. Namun jika ada yang mengucapkan selamat padaku, aku pun akan membalasnya.โ€ Demikian berbagai nukilan riwayat sebagaimana kami kutip dari Al Mughni[2].

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan, โ€œAdapun tentang ucapan selamat (tah-niah) ketika hari โ€˜ied seperti sebagian orang mengatakan pada yang lainnya ketika berjumpa setelah shalat โ€˜ied, โ€œTaqobbalallahu minna wa minkum wa ahaalallahu โ€˜alaikaโ€ dan semacamnya, maka seperti ini telah diriwayatkan oleh beberapa sahabat Nabi. Mereka biasa mengucapkan semacam itu dan para imam juga memberikan keringanan dalam melakukan hal ini sebagaimana Imam Ahmad dan lainnya. Akan tetapi, Imam Ahmad mengatakan, โ€œAku tidak mau mendahului mengucapkan selamat hari raya pada seorang pun. Namun kalau ada yang mengucapkan selamat padaku, aku akan membalasnyaโ€. Imam Ahmad melakukan semacam ini karena menjawab ucapan selamat adalah wajib, sedangkan memulai mengucapkannya bukanlah sesuatu yang dianjurkan. Dan sebenarnya bukan hanya beliau yang tidak suka melakukan semacam ini. Intinya, barangsiapa yang ingin mengucapkan selamat, maka ia memiliki qudwah (contoh). Dan barangsiapa yang meninggalkannya, ia pun memiliki qudwah (contoh).โ€[3]

Selamat Hari Raya

Syaikh Muhammad bin Sholih Al โ€˜Utsaimin rahimahullah ditanya, โ€œApa hukum mengucapkan selamat hari raya? Lalu adakah ucapan tertentu kala itu?โ€

Beliau rahimahullah menjawab, โ€œUcapan selamat ketika hari raya โ€˜ied dibolehkan. Tidak ada ucapan tertentu saat itu. Apa yang biasa diucapkan manusia dibolehkan selama di dalamnya tidak mengandung kesalahan (dosa).โ€[4]

Syaikh Ibnu โ€˜Utsaimin rahimahullah ditanya, โ€œApa hukum jabat tangan, saling berpelukan dan saling mengucapkann selamat setelah shalat โ€˜ied?โ€

Syaikh rahimahullah menjawab, โ€œPerbuatan itu semua dibolehkan. Karena orang-orang tidaklah menjadikannya sebagai ibadah dan bentuk pendekatan diri pada Allah. Ini hanyalah dilakukan dalam rangka โ€˜adat (kebiasaan), memuliakan dan penghormatan. Selama itu hanyalah adat (kebiasaan) yang tidak ada dalil yang melarangnya, maka itu asalnya boleh. Sebagaimana para ulama katakan, โ€˜Hukum asal segala sesuatu adalah boleh. Sedangkan ibadah itu terlarang dilakukan kecuali jika sudah ada petunjuk dari Allah dan Rasul-Nyaโ€™โ€[5]

Dari penjelasan di atas, berarti ucapan selamat hari raya itu bebas, bisa dengan ucapan โ€œSelamat Hari Rayaโ€, โ€œTaqobbalallahu minna wa minkumโ€ dan lainnya. Ucapan โ€œTaqobbalallahu minna wa minkumโ€ pun tidak dikhususkan saat Idul Fithri, ketika Idul Adha dianjurkan ucapan semacam ini sebagaimana kita dapat melihat dalam penjelasan berbagai riwayat di atas.

Mohon Maaf Lahir Batin

Satu catatan pula yang mesti diperhatikan, tidak ada pengkhususan di Idul Fithri untuk saling maaf memaafkan. Semacam sering kita dengar tersebar ucapan โ€œMohon Maaf Lahir dan Batinโ€ saat Idul Fithri. Seolah-olah saat Idul Fithri hanya khusus dengan ucapan semacam itu. Ini sungguh salah kaprah. Idul Fithri bukanlah waktu khusus untuk saling maaf memaafkan. Waktu untuk saling memohon maaf itu luas. Ketika berbuat salah, langsung meminta maaf, itulah yang tepat. Tidak mesti di saat Idul Fithri. Karena jika dikhususkan seperti ini harus butuh dalil dari Al Qurโ€™an dan Al Hadits. Buktinya, tidak ada satu dalil yang menunjukkan seperti ini.

Minal โ€˜Aidin wal Faizin

Satu ucapan lagi yang keliru saat Idul Fithri, yakni ucapan โ€œMinal โ€˜Aidin wal Faizinโ€. Ucapan ini dari segi makna kurang bagus. Arti dari ucapan tersebut adalah โ€œKita kembali dan meraih kemenanganโ€. Ini suatu kalimat yang rancu. Kita mau kembali ke mana? Apa pada ketaatan atau maksiat? Jika mengandung dua makna seperti ini hendaknya ditinggalkan. Karena bisa jadi orang memahami yang dimaksud adalah kita kembali pada maksiat. Artinya, ibadah hanya di bulan Ramadhan saja, setelah itu sah-sah saja untuk maksiat, sah-sah saja untuk tinggalkan shalat dan ibadah wajib lainnya. Akibat ucapan keliru, berujung pada amalan yang keliru.

Satu hal lagi yang mesti dipahami, makna โ€œMinal โ€˜Aidin wal Faizinโ€ adalah sebagaimana yang kami sebutkan di atas. Dan bukan maknanya adalah โ€œMohon Maaf Lahir dan Batinโ€. Setiap kali ada yang ucapkan โ€œMinal โ€˜Aidin wal Faizinโ€ lantas diikuti dengan kalimat โ€œMohon Maaf Lahir dan Batinโ€. Dikira artinya adalah kalimat selanjutnya. Ini sungguh keliru. Ini pemahaman orang yang tidak paham bahasa Arab. Semestinya hal ini diluruskan. Makna kalimat โ€œMinal โ€˜Aidin wal Faizinโ€ adalah โ€œKita kembali dan meraih kemenanganโ€. Namun sebagaimana diterangkan di atas, dari sisi makna kalimat ini keliru. Sehingga sudah sepantasnya kita hindari. Ucapan yang lebih baik adalah sebagaimana telah dikemukakan di awal tulisan dan dicontohkan langsung oleh para sahabat, yakni โ€œTaqobbalallahu minna wa minkum (Semoga Allah menerima amal kita dan amal kalian)โ€.

via muslim.or.id

Advertisements

2 thoughts on “Selamat Hari Raya Idul Fitri 1435H

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s